Erau Adat Kutai 2026 Ditutup, Pemprov Kaltim Dorong Generasi Muda Lestarikan Budaya
Proses ngulur naga dan
belimbur menjadi bagian puncak kegiatan Erau Adat Kutai 2026.(Umar Rafsanjani)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Rangkaian Festival Budaya Erau Adat Kutai Tahun 2026 resmi ditutup melalui prosesi adat di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Tenggarong, Minggu (27/9/2026).
Mewakili Gubernur
Kalimantan Timur Dr H Rudy Mas'ud, Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim Sri
Wahyuni menghadiri prosesi penutupan yang menjadi puncak rangkaian Erau Adat
Kutai 2026.
Prosesi Tepong Tawar dan
Besawai mengawali rangkaian Mengulur Naga dari Keraton Kesultanan Kutai di
Tenggarong menuju pusat Kerajaan Jahitan Layar di Kutai Lama, Kecamatan
Anggana. Naga kemudian dilabuh ke perairan untuk diambil airnya yang dikenal
sebagai Air Tuli dan digunakan dalam prosesi Belimbur.
Belimbur, yakni tradisi
menyiramkan air kepada masyarakat, merupakan ritual adat penyucian diri yang
menjadi salah satu puncak Pesta Adat Erau di Kesultanan Kutai Ing Martadipura.
Atas nama Pemerintah
Provinsi Kaltim, Gubernur Rudy Mas'ud menyampaikan apresiasi kepada Kesultanan
Kutai Ing Martadipura, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, seluruh pihak,
serta masyarakat yang telah menyukseskan pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026.
"Hari ini, Erau bukan
hanya sebuah festival budaya, tetapi identitas dan kehidupan Kutai yang harus
terus dijaga dari generasi ke generasi," kata Gubernur Rudy Mas'ud dalam
sambutannya yang disampaikan Sekda Sri Wahyuni bergelar Sri Wasita Ayu.
Erau Adat Kutai 2026
mengangkat tema "Raja Menjamu Rakyat, dengan Semangat Raja Manunggal bersama
Rakyat". Tema tersebut memiliki makna tentang kedekatan, rasa syukur,
kebersamaan, serta hubungan harmonis antara kesultanan dan masyarakat.
Menurut Gubernur, tema
tersebut juga mengandung pesan bahwa tradisi dan budaya akan semakin kuat
ketika dibangun melalui kebersamaan.
"Kesultanan menjaga
adat dan tradisi, pemerintah memberikan dukungan dan masyarakat ikut merawat
serta menjalankannya secara baik. Semua memiliki peran, sehingga Erau mampu
bertahan hingga saat ini," ungkapnya.
Gubernur Rudy menegaskan,
budaya akan terus hidup apabila masyarakat mencintai dan menjaganya.
Keberlangsungan Pesta Erau Adat Kutai hingga saat ini, menurutnya, tidak
terlepas dari rasa memiliki masyarakat terhadap budaya daerah.
Karena itu, Gubernur
mengajak generasi muda Kaltim untuk tidak membiarkan budaya daerah hanya
menjadi cerita masa lalu.
"Kepada anak muda
Kaltim, jangan sampai budaya daerah ini hanya menjadi cerita masa lalu. Mari
kenali dan pahami kekayaan budaya Benua Etam," pesannya.
Generasi muda juga
didorong ikut mengambil bagian dalam pelestarian budaya melalui kreativitas,
teknologi, media sosial, serta seni yang menyesuaikan perkembangan zaman.
"Generasi muda Kaltim
harus bangga dengan budayanya dan mampu memperkenalkannya ke dunia luas. Hari
ini rangkaian Erau kita tutup, tapi semangat Erau tetap terus berlanjut,"
harapnya.
Sementara itu, Kerabat
Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Pangeran Haryo Notonegoro
mengatakan, Erau Adat Kutai telah masuk dalam 100 event adat terbaik nasional.
"Lebih dari 3.000
event yang mendaftar dari seluruh Indonesia menjadi 623 event yang dikurasi
para pakar. Terpilih 100 event terbaik nasional dan Erau salah satunya,"
sebutnya.
Ia menambahkan,
pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 yang berlangsung pada 20–27 September 2026
mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Jumlah pengunjung tercatat mencapai
sekitar 40.000 orang, termasuk wisatawan dari berbagai negara.
Prosesi Mengulur Naga turut dihadiri Sultan Kutai Aji Muhammad Arifin bersama Permaisuri Aji Ratu Sekar Asih, Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro, Anggota KPU RI Ita Rosita, Kepala Otorita IKN Dr Basuki Hadimulyono, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri, perwakilan Forkopimda Kaltim dan Kutai Kartanegara, serta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.(mar)